Sido Rabi #Yakin Karo DEE?
Aku ini nggak pernah ditembak sama Mas Nug. Seringkali aku protes dan dia malah bilang: “Lah, ngapain? Titi kan dadi istriku, duduk pacarku”. Aku melengos, menimpuknya keras dan bilang BULLSHIT. Lalu dia ketawa.
Jadi kalo ditanya, kapan ide lamar melamar ini ada. Jawabnya sudah lama, bahkan sejak aku semester 4. Tu, Mas Nug yang meracuniku. Tapi tentu kisahnya tidak se-klise itu, banyak drama berepisode-episode biar lebih seru. Dan entah kenapa, dari kepercayaan Mas Nug yang sebenarnya hanya berupa takhayul belaka, aku mulai percaya. Apalagi selepas aku semester akhir, memasuki masa kritis skripsi dan sebagainya, omongan serius itu mulai kuseriusi.
Saat mendekati hari H pertemuan 2 keluarga besar, pasti ada rasa atau pertanyaan-pertanyaan di kepala: yakin nih orangnya? Yakin ni sama dia? Yakin dia udah cukup? Nggak mau lebih? Maklum ya, nggak kayak beli barang yang kalo udah bosen bisa di preloved, tapi sampe mati juga bakal dikekep mulu, jadi butuh pertimbangan rasional dan perasaan yang matang. Wakakak.
Disaat bingung begitu Ibukku memberikan nasehat untuk Sholat Istikharah. Ini mujarab loh. Tapi nggak aku lakukan. Gegara Ibukku bilang nanti diyakinkannya lewat mimpi atau keteguhan hati. Duh, rawan opini-opiniku masuk lalu ikut campur (padahal tidak cuma lewat mimpi, banyak cara real lainnya, jadi tetap dianjurkan untuk sholat Istiqarah juga yaaa). Mas Nug aku suruh Sholat Istiqarah juga nggak jalan, “Aku ki wes yakin kok, istiqarah ki nek ijik bingung”. Maapin yah dia emang kurang agamis gitu.
Tapi entah kenapa aku yakin aja kalo Allah bakal menunjukkan lewat tanda yang nyata. Apakah iya atau tidak. Lalu beginilah ceritanya, kisah simpel yang membuatku melongo dan rasanya pengen joget-joget kegirangan.
Di suatu pagi yang cerah itu, tetiba HP ku bergetar. Dari chat yang tidak kukenal. Tetiba mengirimkan foto2 kegiatan anak2, kuitansi dan berkas laporan keuangan. Opo ki? Batinku. Masih “mengetik”, kutunggui sampai pesannya terkirim. Kubuka. Ternyata mengucapkan terimakasih dan ditunggu doanya yang ingin didoakan bersama.
Usut punya usut setelah kutanyai macam-macam, ternyata ini Mbak Nana yang pernah kutemui di bandara 2 tahun lalu. Jadi ceritanya aku ada acara Dream Maker di Aceh. Transit dulu di Sukarno Hatta, transitnya itu dari pagi sampe sore. Jadi pasti aku bertemu banyak orang dan iseng-iseng ngobrol. Mbak Nana ini termasuk orang yang aktif di kegiatan sosial (panti sosial dan semacamnya) dan entah malaikat apa yang merasukiku, aku iseng-iseng ngasih. Nggak banyak, yakin nggak banyak karena aku nggak inget (kalo banyak malah biasanya inget terus kan? Hahaha).
Nah, setiap donatur ada data diri termasuk permohonan doanya. Dan disana kutulis, “minta dipilihkan jodoh yang baik yang dapat membawa kepada ridha Allah”. Karena waktu itu bingung diantara 2 pilihan.
Sumpah ini bener. Aku inget banget. Aku mau ke pergi ini selain tujuannya untuk Dream Maker juga untuk menemui orang yang dulu rencanaku bakal jadi sama aku. Tapi lihat aku sekarang bersama siapa. Aku masih melongo melongo kayak orang linglung gitu. Mbak Nana malah bilang, “Loh kemarin kan Kak Fitri sendiri yang menuliskan, kok lupa sendiri”.
Lalu, Mbak Nana minta maaf baru bisa menghubungi sekarang karena kemarin2 kontakku hilang dan kemarin bagaimana caranya kontakku ketemu.
Terus aku ngekek-ngekek nggak jelas. Kubalas Mbak Nana, mengucapkan terimakasih.
Selanjutnya aku sudah yakin. Mas Nug memang bukan bagian dari rencana-rencanaku. Bukan pilihan awal yang ku kehendaki pula. Tapi lebih besar dari itu, Mas Nug itu pilihan Allah ternyata. Dan aku berkaca-kaca.
(Ya Allah say, sumpah gak nyongko aku. Wes gk sah sombong, bebeb ki bersyukur kudune entuk aku sing sering berdoa dadi kita sido barengan kan. Wakakakak)



